Forum Alumni & Mahasiswa AMIK Ibrahimy Sukorejo Situbondo
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Selamat datang di Forum Alumni dan Mahasiswa AMIK Ibrahimy Sukorejo Situbondo.

Portal amik.forum.st ini dibuat sebagai wadah dan jalur komunikasi serta sarana untuk belajar, berbagi dan bertukar pikiran atau informasi dalam berbagai hal, dari hal khusus tentang kemajuan teknologi informatika hingga yang umum, dengan tujuan demi kemajuan KITA bersama.

Bagi seluruh Mahasiswa, Alumni dan Simpatisan AMIK Ibrahimy Situbondo dimana pun berada, jika ada informasi kegiatan atau artikel ingin dimuat di halaman depan dari portal amiki.forum.st silahkan kontak Admin e-mail ke amik_ibrahimy@yahoo.com

Daftarkan diri Anda untuk dapat membuat topik, membalas topik yang ada, download dan mengakses menu yang lain.

jangan lupa NIM-nya yah.... Smile
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Sejarah Perfilman Indonesia: dari Loetoeng Kasaroeng Sampai Ada Apa dengan Cinta?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Sejarah Perfilman Indonesia: dari Loetoeng Kasaroeng Sampai Ada Apa dengan Cinta?

Post by Saifullah Ipong on Mon Apr 02, 2012 1:37 pm

DALAM menyambut Hari Film Nasional yang jatuh pada hari ini (30 Maret 2012), saya akan menulis tentang hal-hal yang berbau ketek film nasional, terutama perkembangan film Indonesia dari masa ke masa. Tapi karena saya hanyalah seorang pengamat karya seni -dalam hal ini film- biasa, maka artikel ini hanya dibuat sekadarnya saja. Dirangkum dari bahan bacaan lain dan ditambah dengan pengetahuan saya mengenai film lokal di era 2000-an.


Awal Mula Perfilman Dunia

PERANCIS menjadi cikal bakal munculnya karya seni berupa film, sebuah gambar bergerak yang diabadikan lewat kamera. Adalah dua bersaudara Lumiere: Louis dan Auguste yang diakui secara internasional sebagai ‘bapak’ dari perfilman dunia karena film mereka diputar pertama kali di Perancis pada 28 Desember 1985. Setelah itu film dan gedung bioskop menjadi pertunjukkan seni yang mahal dan hanya dinikmati segelintir orang. Keberadaannya menyebar sampai Uni Sovyet, Jepang, Korea, Italia, dan lain-lain.

Bagi kalian yang sudah menonton film Hugo, pasti sudah sedikit mengerti tentang keberadaan dua bersaudara Lumiere ini -yang dijelaskan secara singkat sebagai ‘penemu’ film. Kemudian dunia mengenal film bisu dan hitam putih. Seiring perkembangan teknologi, film dibuat berwarna dan bersuara. Hingga akhirnya, sampailah kita di era ketika film sudah menjadi kebutuhan ‘pokok’ kita.

Sejarah Bioskop Indonesia

Dari sumber Sejarah Perkembangan Film Indonesia karya Heru Sutadi, film pertama kali diperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia (Jakarta). Waktu iti film dikenal dengan sebutan ‘gambar idoep’ (gambar hidup). Pertunjukkan film pertama digelar di Tanah Abang, yaitu film dokumenter tentang ratu dan raja Belanda di Den Haag. Karena karcis yang mahal, pertunjukkan ini kurang sukses. Sehingga pada 1 Januari 1901, harga karcis dikurangi untuk meraih lebih banyak penonton.

Selanjutnya, film-film yang dinikmati adalah film yang diimpor dari Amerika. Film-film impor tersebut mendapat tanggapan positif dari penonton di Indonesia dengan jumlah penonton yang meningkat.




Film Indonesia Bisu Pertama

DI skala internasional, film bisu populer di tahun 1920-an. Di Indonesia, yang kala itu masih dijajah oleh Belanda, memproduksi satu film bisu bertema lokal berjudul Loetoeng Kasaroeng (Lutung Kasarung). Film ini dibuat oleh dua orang Belanda, G Kruger dan L. Heuveldorf. Film ini ditayangkan di Teater Elite and Majestic, Bandung pada 31 Desember 1926.

Film bersuara muncul pada tahun 1931dengan judul Atma de Vischer atas kerjasama Tans Film Compani dan Kruegers Film Bedrif. Film bisu dan bersuara pun diproduksi sebanyak 21 film dalam kurun waktu 1927-1931. Bagaimana dengan perkembangan bioskop? Majalah pada tahun 1936, Filmrueve mencatat ada sebanyak 227 bioskop yang tersebar di Tanah Air.




Film Lokal Pertama dengan Sutradara Pribumi


DARAH dan Doa adalah film Indonesia pertama yang disutradarai orang Indonesia, Usmar Ismail. Film ini murni karya Indonesia karena diproduksi oleh Perfini atau Perusahaan Film Nasional Indonesia) pada 1950. Karena dianggap ujung tombak perfilman Tanah Air, 30 Maret dijadikan sebagai Hari Film Nasional. Ini karena pada tahun dan tanggal tersebut, pengambilan gambar untuk Darah dan Doa baru dimulai.

Lahirnya Festival Film Indonesia

UNTUK mengapresiasi dan memopulerkan film Indonesia, Festival Film Indonesia atau FFI pada 1955. FFI dibentuk pada 30 Maret - 5 April 1955 atas dorongan Djamaludin Malik, setelah PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia) dibentuk pada 30 Agustus 1954. Jam Malam karya Usmar Ismail dipilih menjadi Film Terbaik saat itu, dan menurut Wikipedia, Tarmina juga film yang meraih predikat sama di tahun yang sama. Penganugerahan ini memberikan 12 kategori penghargaan termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik dan Aktris Terbaik. Piala Citra adalah nama piala dari FFI.


Masa Gemilang Perfilman Indonesia Tahun 80-an

Pada era ini, perfilman Indonesia sedang berada di gerbang kejayaan. Film-film Indonesia menjadi tuan rumah di bioskop-bioskop. Sebutlah beberapa film yang terkenal, yang bahkan dibuat sekuel, trilogi atau tetraloginya seperi Warkop DKI, Catatan Harian si Boy, Olga Sepatu Roda, atau Si Kabayan. Selain itu film drama dan komedi drama juga banyak diproduksi. Para pemain film pun beragam seperti Onky Alexander, Nike Ardilla, Desy Ratnasari, Didi Petet, untuk ikon film populer. Serta Christine Hakim, Jenny Rachman, Slamet Rahardjo, untuk film-film drama serius. Tidak ketinggalan kejayaan film-film horor yang lebih banyak diperankan oleh Susanna.



90-an Masa-Masa Suram

DI dekade 90-an, perfilman Indonesia mulai mati suri. Bioskop dipenuhi film-film lokal yang berbau pornografi. Judul dan poster yang merangsang seksualitas penonton, diiringi dengan konten yang dangkal dan hanya mengumbar keseksian tubuh perempuan. Barangkali hal ini dipengaruhi oleh selera perfilman Amerika yang saat itu ‘baru’ mengeksplorasi seksualitas sebagai tema film.

Film-film ‘porno’ ini banyak diproduksi dan bintang yang terkenal saat itu adalah Sally Marcellina, Inneke Koesherawati, Malfin Shayna, atau Reynaldi. Beberapa film di luar ‘mainstream’ pun dibuat terutama pada awal-awal tahun 90-an seperti Bibir Mei atau Rini Tomboi, namun harus dikalahkan oleh ‘kedigjayaan’ film-film panas. Menjelang akhir 90-an, sebuah film independen dan dibuat ‘keroyokan’, Kuldesak, dibuat untuk memperbaiki kualitas film lokal. Ada pula film Daun di Atas Bantal yang diakui skala internasional yang dibuat Garin Nugroho. Puncaknya adalah kesuksesan film Petualangan Sherina. Film musikal yang baik secara kualitas dan komersil.




Awal 2000-an: Bangkit dari Mati Suri

JELANGKUNG, sebuah film horor karya Jose Poernomo dan Rizal Mantovani, awalnya diperuntukkan untuk disiarkan di televisi sebagai bentuk ‘promosi’ stasiun televisi swasta baru. Namun kemudian disiarkan di bioskop dan menjadi box office. Selanjutnya pada 2002, Mira Lesmana membikin film bertema remaja berjudul Ada Apa dengan Cinta? Film ini menjadi box office dan memopulerkan nama Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Sejak saat itu, film-film remaja bermunculan dengan icon star macam Shandy Aulia dan Samuel Riza. Film-film seperti Eiffel .. I’m in Love, Apa Artinya Cinta pun meledak di pasaran.

Genre drama, komedi dan horor pun berkembang pesat. Sebuah drama komedi mencuri perhatian lewat Arisan! yang disutradarai dan ditulis Nia Dinata. Menjelang medio 2000-an (2005-2006), film-film lokal berkualitas dan bercita rasa tinggi bermunculan seperti hujan yang turun dari langit. Virgin karya Hanny R. Saputra menjadi box office dan mewakili film remaja populer yang cukup menggambarkan ’sakitnya’ kehidupan remaja perkotaan. Tidak ketinggalan film feminis yang lebih banyak muncul dari tangan Nia Dinata seperti Berbagi Suami dan omnibus-nya Perempuan Punya Cerita. Dari genre horor, Rizal Mantovani membuat trilogi Kuntilanak yang baik secara artistik dan cukup komersil. Dari komedi, sebuah film komedi bercitarasa internasional dibuat Joko Anwar dalam Janji Joni. Film-film bertema nasionalisme dan anak-anak pun diproduksi Miles Production seperti Gie atau Laskar Pelangi, dan dibuat Alenia Pictures seperti Denias, Senandung di Atas Awan atau Tanah Air Beta.



MFI Boikot FFI


FFI 2006 mengundang kontroversi karena memenangkan film Ekskul sebagai film terbaik. Film ini nyatanya dianggap melanggar hak cipta dari tata musik yang copas dari scoring film luar. Tidak masuknya Berbagi Suami dalam nominasi film terbaik, juga menjadi hal yang patut dipertanyakan. Hal ini membuat sekelompok sineas seperti Nia Dinata, Mira Lesmana, dan Riri Riza memboikot FFI dengan tidak lagi mendaftarkan film-film mereka ke FFI. Beberapa dari mereka juga mengembalikan Piala Citra sebagai bentuk protes. Alhasil, kemenangan Ekskul pun dicabut.

Tidak heran pemenangan FFI pasca tahun 2006 menjadi hilang ‘kualitas’ karena sineas-sineas penting lainnya tidak ikut mendaftarkan film. Meski demikian, film-film dari sutradara lain seperti Joko Anwar atau Hanung Bramantyo masih mendafarkan filmnya. Meski pun pada tahun 2010, kegagalan FFI kembali mengemuka ketika film Sang Pencerah tidak masuk ke dalam nominasi. Karena konflik internal, juri pun diubah. Selanjutnya FFI harus usaha lebih keras untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik.

Maraknya Film-film Adaptasi

SELAIN penerbit menerbitkan buku fiksi yang berasal dari film-film yang dianggap box office, para sineas juga mengadaptasi novel asli ke dalam bentuk film. Apa yang disebut ekranisasi (film adaptasi dari naskah novel/cerpen) ini sebenarnya sudah berlangsung di awal tahun 2000-an ketika Nia Dinata membuat Ca Bau Kan yang merupakan novel Remy Silado. Selanjutnya, film-film adaptasi yang dianggap berhasil ada pada film Gie, berdasar memoar seorang aktivis, Soe Hoek Gie. Dari genre pop, novel Laskar Pelangi dan dwikuelnya Sang Pemimpi pun dibuat Riri Riza dan menjadi Box Office. Sang penulis Djenar Maesa Ayu pun mengadaptasi dua cerpennya menjad film independen berkualitas, Mereka Bilang, Saya Monyet! Dan tentu saja Hanung Bramantyo yang membuat film feminis Perempuan Berkalung Sorban.

Selanjutnya novel susastra Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari pun diadaptasi ke dalam film dengan judul Sang Penari. Sementara projek Bumi Manusia yang konon akan dibuat Miles pun menjadi projek yang ditunggu-tunggu. Novel karya Pramoedya Ananta Toer ini awalnya akan digarap Garin Nugroho, namun akhirnya Miles Productionlah yang akan menggarap. Semoga hasilnya akan epic dan bagus, yah.

Banjir Film-film Islami

PASKA Ayat-Ayat Cinta, sebuah adaptasi dari novel, film-film bertema muslim pun bermunculan. Padahal Ayat-Ayat Cinta dalam film jelas dibuat sebagai sebuah film ‘cinta’. Selanjutnya film-film dari novel Islami dibuat seperti Ketika Cinta Bertasbih yang konyolnya dibuat bersambung ala FTV dua bagian. Dalam Mihrab Cinta pun kali ini dibuat oleh sang penulisnya sendiri. Tidak lupa film adaptasi yang cenderung gagal merepresentasikan isi novel seperti Hafalan Shalat Delisa.

Keserakahan dan Idealisme

KARENA film bagi sebagian produser film lokal adalah ajang bisnis, maka mereka kegilaan membuat film atas tuntutan ‘deadline’ agar antusiasme penonton bisa ‘terjaga’. Trilogi novel Andrea Hirata, Edensor, awalnya digarap Riri Riza dan Mira Lesmana. Karena didesak untuk cepat-cepat membikin, sutradara dan produser itu pun menyerahkan projek itu pada rumah produksi lain. Padahal untuk membuat film yang baik, kau tidak hanya dituntut untuk cepat-cepat menyelesaikan, tetapi persiapan matang dan kemampuan finansial yang baik. Apalagi Edensor ber-setting di luar negeri.

‘Keserakahan’ tidak hanya terjadi di film-film bagus, film-film berselera rendah dibuat dengan miskin tata teknis. Sama halnya seperti FTV yang ditayangkan di bioskop. Gambar yang tidak film, para pemain kaku, serta unsur-unsur kamuflatif lainnya.

Akhir 2000-an: Film Eceng Gondok Menjamur

ALIH-alih agar penonton bioskop tidak bosan barangkali. beberapa film bermunculan dengan selera yang ‘rendah’. Banyak film bergenre horor yang kehilangan isi lantaran menjual seksualitas perempuan, judul yang merangsang dan membikin ‘penasaran’ kalangan awam, juga poster yang mengundang decak kagum. Sama halnya dengan genre komedi yang mulai tidak berkualitas karena konten yang dangkal dan pemain yang itu-itu saja. Nayato Fio Nuala dan dengan nama-nama samarannya, membuat film-film berbagai genre yang tipikal. Poster menjual, judul kontroversial, gambar tidak matang ala video musik chaos, namun banyak direspons penonton yang lebih banyak ke bioskop untuk bersenang-senang. Nama-nama pemain berbau sekwilda (sekitar wilayah dada) pun berjamuran. Taruhlah Julia Perez, Dewi Perssik, Jenny Cortez, Andi Soraya, Uli Auliani, dan lain-lain.

Awal 2011 - 2012

FILM-film lokal berkualitas sebenarnya masih diproduksi dalam jumlah yang amat sedikit. ‘Sialnya’ film-film bagus ini lebih sering turun di bioskop. Taruhlah Ruma Maida, Jamila dan Sang Presiden, Pintu Terlarang, atau Merantau, yang dibuat sebelum tahun 2011. Selanjutnya film-film lokal berkualitas lebih banyak dibuat Hanung Bramantyo seperti Sang Pencerah dan Tanda Tanya.

Pada awal 2012, kita bisa bernapas lega karena projek film-film bagus akan dirilis. Di awal tahun kita akan melihat film omnibus yang tidak mengecewakan seperti Dilema, film adaptasi novel seperti Negeri Lima Menara, dan film laga seperti The Raid, disusul film thriller lokal dengan dialog bahasa Inggris: Modus Anomali.


Coppas : http://hiburan.kompasiana.com/film/2012/03/30/sejarah-perfilman-indonesia-dari-loetoeng-kasaroeng-sampai-ada-apa-dengan-cinta/[b]
avatar
Saifullah Ipong
Kopral Dua
Kopral Dua

Th. Akademik : 2009
Asal Kota : Situbondo
Umur : 27
Male
Phone : 085 233 222 228
Aries Kuda
Jumlah posting : 22
Sejak Tanggal : 12.06.11

http://saifullahazzulfikar.blogspot.com/

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik