Forum Alumni & Mahasiswa AMIK Ibrahimy Sukorejo Situbondo
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Selamat datang di Forum Alumni dan Mahasiswa AMIK Ibrahimy Sukorejo Situbondo.

Portal amik.forum.st ini dibuat sebagai wadah dan jalur komunikasi serta sarana untuk belajar, berbagi dan bertukar pikiran atau informasi dalam berbagai hal, dari hal khusus tentang kemajuan teknologi informatika hingga yang umum, dengan tujuan demi kemajuan KITA bersama.

Bagi seluruh Mahasiswa, Alumni dan Simpatisan AMIK Ibrahimy Situbondo dimana pun berada, jika ada informasi kegiatan atau artikel ingin dimuat di halaman depan dari portal amiki.forum.st silahkan kontak Admin e-mail ke amik_ibrahimy@yahoo.com

Daftarkan diri Anda untuk dapat membuat topik, membalas topik yang ada, download dan mengakses menu yang lain.

jangan lupa NIM-nya yah.... Smile
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

BELAJAR TEKNIK PEMBUATAN FILM DOKUMENTER

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

BELAJAR TEKNIK PEMBUATAN FILM DOKUMENTER

Post by Saifullah Ipong on Fri Apr 20, 2012 9:43 am

(Oleh: Zainul Walid)


Bagaimana langkah-langkah membuat film dokumenter?

Secara pokok, ada lima langkah yang bisa kita lakukan untuk membuat film dokumenter:
1. Menentukan ide
2. Menuliskan film statement
3. Membuat scrips atau outline
4. Mencatat sasaran tembak
5. Menyiapkan editing scrips
Mari kita kenali lebih jauh langkah-langkah tersebut!

A. Menentukan Ide

Sebelum membuat film, kita harus menentukan ide tentang apa yang akan kita filmkan. Ingat! Untuk film dokumenter, kuncinya adalah fakta yang benar-benar terjadi. Dengan kata lain, ide tidak boleh berangkat dari rekaan atau khayalan (fiktif).
Di mana kita dapat menemukan ide? Ide dapat kita temukan di mana-mana. Misalnya, saat kita membaca surat kabar, tiba-tiba kita tertarik pada berita banjir bandang Situbondo. Setelah membaca berita, kita tertarik untuk menerjemahkan peristiwa itu menjadi sebuah film dokumenter. Nah, dengan begitu kita sudah punya ide.
Ide telah kita temukan. Sekarang tinggal kita ukur apakah ide itu menarik atau tidak? Penting kita ingat bahwa sesuatu yang istimewa (menarik), tiba-tiba akan menjadi biasa jika sudah diketahui orang banyak. Dengan begitu, carilah ide dari sesuatu yang tidak biasa, atau biasa tapi tidak diperhatikan orang banyak. Dengan demikian, film kita akan istimewa atau menarik.
Banjir Situbondo adalah hal istimewa, tapi sudah diketahui orang banyak. Sejumlah media massa telah meliputnya. Lalu, masih adakah yang istimewa terkait dengan banjir itu? Nah, di sinilah kreativitas kita dipertaruhkan untuk menemukan kejadian-kejadian yang istimewa. Misalnya:
1. Tersiar kabar bahwa ada induk sapi dan anaknya selamat dari hantaman banjir. Padahal, rumah pemiliknya saja rata dengan tanah. Konon, pemiliknya tak sempat membawanya lari. Dia hanya berpesan pada sapi itu, “Kalau kamu rizki saya, kamu pasti akan tetap milik saya.”
Siapa pemilik sapi itu? Di mana sekarang sapinya? Di mana sapi itu berada ketika banjir? Dan seterusnya…. Istimewa, bukan?
2. Banjir Situbondo juga meratakan PP Darun Najah. Tapi tidak banyak orang tahu apa aktivitas santrinya malam itu sebelum banjir membawa hanyut pondok-pondok dan masjid mereka? Bagaimana reaksi orang tua mereka mendengar musibah itu? Adakah pesantren itu masih akan didirikan kembali? Kalau ia, pindah lokasi atau tetap di situ? Bagaimana pula proses pemindahan makam almarhum pengasuhnya? Dan seterusnya….
3. Tercatat ada sekitar 15 orang korban meninggal dalam musibah itu. Apa yang dilakukan mereka saat banjir datang sehingga mereka menjadi korban yang meninggal? Apa pekerjaan mereka sehari-hari? Bagaimana anak-istrinya sekarang? Dan seterusnya….
Nah, ternyata masih ada yang istimewa. Ya, karena kita berani berpikiran beda dengan apa yang diketahui orang. Selanjutnya, tinggal bagaimana kita mencari obyek-obyek itu untuk kita jadikan film? Bisakah? “Insya-Allah”, kata santri.

B. Menuliskan Film Statement

Ide sudah kita dapatkan. Sekarang kita buat film statement, yakni menyatakan ide itu ke dalam tulisan. Misalkan kita pilih ide tentang dua ekor sapi yang selamat. Kira-kira contoh film statementnya begini:

Ide:
Induk dan anak sapi yang selamat dalam amukan banjir bandang Situbondo

Film Statement:
Pemandangan Situbondo yang hancur disebabkan banjir bandang. Penderitaan sejumlah orang korban banjir. Siapa pemilik sapi itu? Apa aktivitas kesehariannya? Apa usaha yang dilakukan dalam menyelamatkan sapinya ketika banjir? Bagaimana kondisi sapinya sekarang?

Apa gunanya film statement? Gunanya sebagai panduan atau garis-garis besar dalam pembuatan filmnya nanti. Dengan panduan itu, film yang kita buat tidak akan melenceng jauh.

C. Melakukan Riset

1. Riset Obyek Film
Setelah ide dan film statement sudah dijabarkan, langkah berikutnya adalah melakukan riset tentang obyek film kita. Riset ini bisa dilakukan dengan membaca surat kabar, buku, artikel atau hal-hal lain yang terkait dengan tema film yang akan kita buat. Namun, riset yang paling utama adalah terjun langsung ke lokasi pembuatan film itu.
Dengan terjun langsung, kita mungkin akan menemukan fakta-fakta menarik yang tak terbayangkan sebelumnya dan akan dapat memperkaya film kita. Setidaknya, kita akan mengetahui keadaan lokasi yang sesungguhnya, sehingga kita akan lebih paham terhadap medan syuting kita.
Dengan riset itu pula, kita akan dapat menentukan strategi yang tepat saat syuting. Kita akan dapat mengira-ngira mana kejadian yang akan kita rekam dan mana yang tidak. Bahkan, kita akan bisa memilah-milah mana kejadian yang paling penting dan mana yang kurang penting. Pemilahan ini penting karena kadang-kadang ada momen sebuah kejadian yang tidak dapat diulang. Misalnya, kunjungan sejumlah artis ke tempat kejadian. Biasanya momen semacam itu hanya akan terjadi sekali. Kalau kita berhasil merekam kejadian penting itu maka film kita akan semakin bergizi dan berisi.

2. Riset Karakter Utama Film
Sebagaimana film fiksi, film dokumenter kadang-kadang juga memerlukan karakter utama yang dapat membawakan cerita kita. Misalnya, kita tetap memilih tema film kita tentang sapi itu, maka riset untuk karakter utamanya tentu adalah pemilih sapi itu.
Bagaimana kalau sapi itu ternyata milik banyak orang? Kalau begitu, pilihlah salah-satu di antara mereka yang paling tahu masalahnya dan menarik terkait dengan film kita. Sedangkan yang lain bisa menjadi karakter pendukung yang akan melengkapi jalannya cerita.
Jangan lupa, pastikan bahwa karakter utama itu adalah orang yang enak diajak bicara dan terbuka agar film kita lebih hidup.

3. Riset Visual
Saat kita melakukan riset di atas, teliti pula segala apa yang ada di lingkungan tempat film kita akan dibuat. Inilah yang disebut riset visual. Dengan riset visual, kita akan tahu apakah ada sudut-sudut pemandangan menerik yang bisa kita rekam untuk menguatkan film. Misalnya, di rumah karakter terdapat foto-foto, karya seni, atau hal lain yang menjadi aktivitas keseharian karakter. Semua itu penting dicatat agar nantinya tidak lupa disyuting.

D. Membuat Script atau Outline

Nah, langkah berikutnya adalah menyusun rencana isi film kita dengan membuat cerita rekaan. Inilah yang disebit script atau outline.
Bagaimana caranya? Caranya, kita tinggal menceritakan rekaan isi film secara utuh dari awal sampai akhir. Buatlah cerita rekaan itu berdasarkan riset yang kita lakukan tadi. Masukkan pula asumsi-asumsi kita (kalau ada) agar film kita tambah menarik. Jangan lupa gunakan alur dramatiknya dengan struktur tiga babak: pengenalan karakter, puncak konflik, dan penutup.
Ingat! Script sangat membantu kita untuk mengirit biaya produksi. Di medan syuting nanti, kita tidak akan membiarkan kamera merekam gambar-gambar yang tidak perlu, sekalipun gambar itu bagus. Dengan begitu, pita kaset kita akan irit.
Apa sebenarnya fungsi script? Fungsinya:
1. Sebagai alat struktur dan organizing yang dapat dijadikan referensi bagi semua orang yang terlibat. Dengan script kita dapat mengomunikasikan ide film kepada seluruh crew produksi. Oleh karena itu, script harus jelas, sederhana, dan imajinatif. Ini akan memudahkan orang memahami apa yang akan kita buat, apa isinya, dan akan diarahkan ke mana film kita.
2. Script juga penting untuk kerja kameramen. Dengan membaca script, kameramen akan menangkap mood, peristiwa ataupun masalah-masalah teknis terkait dengan kameramen.
3. Dengan script kita akan tahu siapa saja orang yang kita butuhkan dan wawancarai sebagai narasumber dalam film kita.
4. Script menjadi dasar kerja produksi. Berdasarkan kebutuhan cerita dalam film itu, kita akan tahu berapa dana produksi yang dibutuhkan. Lokasi mana saja yang diperlukan dan dimintai izin syuting. Berapa banyak wawancara. Riset apa saja yang perlu dilakukan.
5. Script praproduksi ini juga akan menjadi gambaran bagi editor kita di dalam mengidit hasil syuting. Dia akan tahu bagaimana jalan ceitanya. Bagaimana menghubungkan antargambar. Walaupun sebenarnya editor akan bekerja berdasarkan editing scrip. Akan tetapi, script prapruksi (pre-produktion script) ini masih sangat diperlukan sebagai pembanding agar hasil edit film kita tidak melenceng jauh.

Script bukan sesuatu yang kaku. Artinya, tidak pasti bahwa script itu harus dilaksanakan semuanya sebagaimana adanya. Script hanya rencana, kenyataannya bisa berbeda. Semua itu bisa kita buktikan saat syuting.
Nah, sekarang kita sudah tahu apa script film kita. Apakah kita sudah siap syuting? Tunggu dulu, masih ada yang perlu kita susun, yakni membuat daftar sasaran tembak.

E. Mencatat Sasaran Tembak

1. Mencatat Shooting List
Sebelum terjun ke “medan perang”, kita perlu mendaftar sasaran tembak kita. Inilah yang disebut shooting list.
Shooting list berisi perkiraan-perkiraan gambar apa saja yang kita butuhkan. Perkiraan ini kita buat berdaraskan script tadi. Dengan begitu, shooting list tidak bisa kita buat kalau scriptnya belum selesai.
Shooting list yang kita buat harus rinci, mencakup semua gambar yang kita perlukan. Misalnya kita akan berwawancara dengan seorang korban banjir Situbondo. shooting lis-nya antara lain: gambar obyek yang kita wawancarai, rumahnya, foto-foto di dinding, asesoris, dan hal-hal lain yang menambah segarnya film kita. Bukankah hal-hal itu sudah kita catat pada tahap riset visual? Nah, di sinilah waktunya catatan itu kita buka untuk kita jadikan shooting lis.
Dengan shooting list, ketika kita wawancara, gambar film kita tidak hanya berisi narasumber yang kita wawancarai, tapi bisa berpindah-pindah pada gambar-gambar lain yang terkait dengan identitas narasumber atau mendukung isi wawancara. Oleh sebab itu, jangan lupa kita syuting juga aktivitas keseharian narasumber. Misalnya, keseharian narasumber kita seorang penjual bakso. Syutinglah sejak dia mendorong rombong bakso ke tempat jualannya. Syuting pula lokasinya, nama lokasinya, situasi tempat itu, bagaimana dia melayani pembeli, bagaimana pembeli makan bakso, dan seterusnya. Nah, film kita tidak menoton, kan?
Untuk menunjukkan nama lokasi syuting, kita dapat mengambil gambar papan-papan yang menunjukkan lokasi tersebut. Misalnya, tempat berjualan bakso narasumber kita berada di jalan Anggrek. Syutinglah papan nama jalan Anggrek yang ada, atau papan-pan lain yang menunjukkan bahwa di situ jalan Anggrek.
Contoh catatan shooting list seperti ini:
1. Wawancara di rumah narasumber X:
- Establish rumah narasumber kita
- Wawancara dengan narasumber kita
- Close up foto-foto di dinding rumah narasumber kita
- Close up dinding bilik yang bolong-bolong
- Establish narasumber mendorong rombong
- Ekstrim Close up wajah narasumber yang berkeringat
- Long shoot pembeli datang membeli bakso
- Middle close up narasumber melayani pembeli
- Close up tulisan pada rombong bakso
- Close up papan nama lokasi
Dalam membuat shooting list ini, urutlah dari hal-hal yang paling penting. Misalnya, narasumber mendorong rombong bakso di dahulukan daripada menyuting papan nama lokasi. Kenapa? Mendorong rombong bakso hanya terjadi sekali sehari. Sementara papan nama dapat kita syuting kapan saja. Jadi urutkan mulai dari hal-hal yang mendesak, baik secara waktu, situsi dan kondisi.

2. Mencatat Shooting Schedule
Ingat! Membuat shooting schedule atau jadwal syuting harus diurut mulai dari hal-hal yang mendesak. Hal yang hanya terjadi sekali didahulukan daripada yang terjadi berkali-kali atau tetap. Misalkan, menyuting gerhana bulan didahulukan daripada menyuting bintang-bintang.
Untuk syuting wawancara dengan narasumber dan aktifitasnya, tentu kita perlu bertanya terlebih dahulu kapan dia siap diwawancarai dan disyuting aktivitasnya. Kalau dia siap hari Senin, jangan buat dijadwal hari Selasa, karena bisa saja dia tidak siap pada hari lain selain Senin. Jadi, susunlah shooting schedule kita dengan penuh perhitungan.


Contoh shooting schedule:

No. Shooting List Shooting Schedule
Hari/Tanggal Pukul
1 Wawancara dengan narasumber X Sabtu, 16 Feb. 2008 07.00-sampai selesai
2 Foto-foto di dinding narasumber Sabtu, 16 Feb. 2008 09.00 WIB
3 Dindik bilik yang bolong (close up) Sabtu, 16 Feb. 2008 09.00 WIB
4 Rumah narasumber (establisih) Sabtu, 16 Feb. 2008 09.15 WIB
5 Dan seterusnya…

O ya, sebelum kita berangkat ke rumah narasumber, seluruh pertanyaan sudah kita siapkan dengana matang. Tapi ingat! Pertanyaan itu bisa kita kembangkan sesuai situasi dan kondisi ketika kita melaksanakan wawancara.

Ok, sekarang kita berangkat ke medan perang. Periksa kembali semua alat yang kita butuhkan, catatan penting dan lainnya. Ajak semua crew produksi yang terlibat di dalam pengambilan gambar. Kita perang!

F. Menyiapkan Editing Script

1. Menemukan Time Code
Time code adalah kode waktu yang menunjukkan tempat di mana gambar terekam pada sebuah pita kaset. Misalnya, gambar narasumber X ketika diwawancarai terdapat di kaset 2, tepatnya di time code 00.14.13:19 dari durasi kaset 60 menit. Apa gunanya? Untuk menghemat waktu dan memudahkan kita mencari gambar.
Contoh:
Kaset Nomor Time Code Gambar
In Out
1 00.00.00.00 00.00.46.01 Establish Rumah narasumber
1 00.00.46.02 00.00.47.00 Close up foto-foto di dinding
2 00.00.20.00 00.00.29.00 Wawancara narasumber X
2 00.00.29.01 00.00.31.00 Close up dinding bilik yang bolong

2. Membuat Editing Script
Sebelum membuat editing script, cocokkan kembali hasil syuting kita dengan script praproduksi (outline) yang pernah kita buat di atas. Kemudian, susunlah hasil syuting kita sesuai dengan urutan ouline tadi. Setelah itu, kita tinggal membuat editing script atau daftar editnya. Caranya, padukanlah antara unsur audio dan visual, jangan lupa menuliskan time code-nya.

Contoh editing script:

NO AUDIO VISUAL
1 Kaset 2
Time Code: 00.00.20.00 00.00.29.00
Wawancara narasumber X Kaset 1
Time Code: 00.00.00. 00 00.00.46.01
Establish rumah narasumber

Time Code: 00.46.02.00 00.00.47.00
Close up foto-foto di dinding

Kaset 2
Time Code: 00.00.29.02 00.00.31.00
Close up dinding bilik yang bolong



Perhatikan contoh editing script di atas. Pada kolom audio, kita menuliskan potongan kalimat yang kita kehendaki, time code-nya serta di kaset berapa kalimat itu berada. Sedangkan pada kolom visual, masukkanlah deskripsi gambar yang kita mau beserta time code-nya dan di kaset berapa gambar itu berada. Nah, sekarang kita dapat membayangkan bakal seperti apa film kita nantinya.
Ingat! Kalau editing script telah selesai kita susun, segera serahkan pada editor kita. Editor pun siap melaksanakan tugasnya.

Selamat Mencoba.
avatar
Saifullah Ipong
Kopral Dua
Kopral Dua

Th. Akademik : 2009
Asal Kota : Situbondo
Umur : 27
Male
Phone : 085 233 222 228
Aries Kuda
Jumlah posting : 22
Sejak Tanggal : 12.06.11

http://saifullahazzulfikar.blogspot.com/

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik